Selasa, 29 November 2016

TAKSONOMI

A. Pengertian Taksonomi
Taksonomi berasal dari kata takson yang berarti kelompok, dan nomos yang berarti hokum. Makhluk hidup yang memiliki persamaan ciri-ciri dikelompokan ke dalam unit-unit (takson). Takson disusun dari tingkat tinggi ke tingkat rendah. Makhluk hidup yang memiliki sedikit persamaan ciri-ciri dikelompokan ke dalam tingkat takson yang lebih tinggi. Pada tingkat ini jumlah mahkluk hidupnya banyak. Sedangkan makhluk hidup yang memiliki banyak persamaan dikelompokkan ke dalam tingkat takson yang lebih rendah. Di sini jumlah makhluk hidupnya lebih sedikit.
Dalam klasifikasi diperlukan metode penamaan (nomenclature) untuk memberi nama suatu kelompok organism tertentu.
Tujuan penamaan suatu organisme, yaitu:
a. Membedakan antara kelompok organisme.
b. Menyusun hubungan kekerabatan antarkelompok.
c. Memudahkan dalam mengenal ciri-ciri kelompok, dan
d. Menunjukkan tingkat takson dalam taksonomi.
B. Tahapan dalam Klasifikasi
Pengklasifikasian makhluk hidup melalui beberapa tahap, sebagai berikut:
1) Pencanderaan makhluk hidup
Pada tahap ini, identifikasi dan ciri-ciri yang tampak dan mudah diamati, yaitu ciri-ciri morfologi, anatomi, dan fisiologi. Misalnya; bentuk daun, bentuk batang, warna bunga, dan lain-lain.
2) Pengelompokan makluk hidup
Pada tahap ini, makhluk hidup dikelompokan berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri-ciri yang dimiliki. Misalnya; mangga, jambu air, kacang dikelompokan dalam tumbuhan berbiji belah.
3) Pemberian nama takson
Setelah organisme dikelompokkan berdasarkan ciri-cirinya, kemudian diberikan nama pada takson tersebut. Misalnya; itik, ayam, burung dikelompokan dalam kelompok aves.
Pemberian nama takson pada tingkat spesies harus berpedoman pada binomial nomenclatur yaitu cara pemberian nama jenis (spesies) suatu makhluk hidup dengan dua kata. Aturan ini dikemukakan oleh Carolus Linnaeus, yang merupakan nama ilmiah dan nama aslinya Carl Von Linne. Ketentuan penamaan system ini, sebagai berikut:
1) Nama spesies terdiri dari dua kata dalam bahasa latin atau kata yang dilatinkan. Misalnya: Panthera tigris (harimau Sumatera), Varanus komodoensis (komodo), Pendrogalus inustus (anoa).
2) Nama pertama menunjukan nama genus, ditulis dengan huruf pertama menggunakan huruf capital. Misalnya: Panthera, Varanus, Pendrogalus.
3) Nama kedua merupakan nama spesifik yang menunjukan jenis, ditulis dengan huruf awal menggunakan huruf kecil. Misalnya: tigris, komodoensis, inustus.
4) Nama spesies dicetak miring atau digaris bawahi, atau dicetak berbeda dengan teks lainnya. Tujuannya agar mudah terbaca di dalam teks tersebut. Misalnya : Oryza sativa(padi), Mangifera indica (mangga), Elephas maximus (gajah).
C. Urutan Tingkatan Takson dalam Klasifikasi
Untuk memudahkan pengelompokan organism yang beraneka ragam maka disusunlah suatu aturan pengelompokan. Pengelompokan dilakukan dari tingkat rendah (spesies) sampai tingkatan yang paling tinggi (Kingdom).
Urutan sebagai berikut:
1) Spesies : satuan atau unit dasar klasifikasi dua jenis organism/lebih bisa dimasukkan dalam satu spesies jika organism tersebut dapat melakukan perkawinan alami dan menghasilkan keturunan secara fertile.
2) Genus ( marga) : kumpulan dari spesies yang memiliki cirri-ciri yang sama.
Dalam biologigenus (jamak genera) atau marga adalah salah satu bentuk pengelompokan dalam klasifikasi makhluk hidup yang secara hierarki tingkatnya di atas spesies, tetapi lebih rendah daripada familia. Dalam sistem tata nama binomial, nama suatu spesies makhluk hidup terdiri atas dua kata, yaitu nama genusnya (diawali dengan huruf kapital) dan nama penunjuk spesiesnya dengan ditulis atau cetak miring. Misalnya, Homo sapiens, nama ilmiah untuk spesies manusia modern, menandakan bahwa manusia modern tergolong ke dalam genus Homo.
Penyusunan suatu genus ditetapkan oleh seorang taksonomis. Tidak ada aturan baku dalam pengklasifikasian, sehingga dapat terjadi perbedaan klasifikasi genera di antara para taksonomis yang berwenang. Meskipun demikian, ada beberapa praktik yang umum diterapkan,[1] antara lain pemikiran bahwa suatu genus baru ditetapkan apabila memenuhi tiga kriteria berikut:
1.     monofili – semua keturunan dari suatu takson leluhur dikelompokkan bersama-sama (yaitu analisis filogenetik harus secara jelas menunjukkan baik monofili maupun validitas sebagai suatu garis keturunan yang terpisah[2]).
2.     kepadatan proporsional – suatu genus tidak boleh dikembangkan dengan sia-sia, dan
3.     keunikan – berhubungan dengan kriteria evolusioner yang relevan, yaitu ekologimorfologi, atau biogeografi; perhatikan bahwa sekuens DNAlebih merupakan suatu konsekuensi daripada kondisi penyimpangan garis keturunan evolusioner, kecuali dalam hal mereka secara langsung mengalami hambatan aliran gen (contohnya penghambat pasca zigotik).

3) Famili (suku) : tingkatan takson yang anggotanya terdiri atas beberapa genus atau marga yang memiliki cirri yang sama.
Familia (Bahasa Latinfamilia, jamak familiae) dalam klasifikasi ilmiah adalah suatu takson yang berada antara ordo dan genus, merupakan taksonomi yang di dalamnya terdiri atas beberapa genus yang secara filogenetis terpisah dari familia lainnya. Pengindonesiaan takson ini adalah suku (dipakai dalam banyak pustaka ilmiah), famili, atau keluarga. Suatu familia dapat terbagi menjadi beberapa subfamilia, yaitu takson menengah yang berada di atas genus. Dalam penggunaan nama umum, suatu familia dapat dinamakan sama dengan nama salah satu anggotanya yang umum diketahui.
Apa-apa yang termasuk atau tidak termasuk dalam suatu familia atau saat suatu familia diakui tersendiri diusulkan dan ditetapkan oleh para taksonomis. Tidak ada aturan baku dalam menggambarkan atau menjelaskan suatu familia, atau bahkan takson lainnya. Para taksonomis mungkin berada pada posisi yang berbeda mengenai deskripsi suatu takson dan mungkin tidak ada konsensus yang diterima luas di kalangan komunitas ilmiah selama beberapa waktu. Selama tidak ada konsensus, data dan pendapat-pendapat baru akan selalu diberikan yang memungkinkan adanya penyesuaian-penyesuaian.

4) Ordo (bangsa) : tingkatan takson yang terdiri atas beberapa famili yang memiliki cirri yang sama.
Ordo atau bangsa (Bahasa Latin: ordo, jamak ordines; bahasa Inggris: order) adalah suatu tingkat atau takson antara kelas dan familia. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh ahli botani Jerman Augustus Quirinus Rivinus dalam klasifikasi tumbuhannya. Carolus Linnaeus merupakan orang pertama yang secara konsisten menerapkannya dalam klasifikasi tiga kerajaan besar: mineral, hewan, dan tumbuhan dalam bukunya Systema Naturae (1735)
5) Classis ( kelas) : kumpulan beberapa ordo dengan ciiri yang sama.
Kelas atau Classis adalah suatu tingkat atau takson dalam klasifikasi ilmiah hewan dan tumbuhan dalam biologi. Tingkat ini berada di bawah filumdan di atas ordo. Contohnya, mamalia adalah kelas untuk anjing, di mana filumnya adalah chordata (hewan dengan tulang belakang) dan familianyaadalah karnivora (hewan pemakan daging).
6) Phylum (filum) : kumpulan beberapa kelas dengan cirri yang sama.
Filum dari bahasa Yunaniphylum adalah cabang. Biasanya kata ini dipakai dalam ilmu bahasa perbandingan atau dalam ilmu biologi dalam menguraikan atau mengklasifikasikan hubungan 'keluarga' antar jenis atau bahasa .
Dalam biologiklasifikasi ini menjadi: subfilumkelasordofamiligenus dan spesies.
Dalam ilmu bahasa, hal ini merupakan kelompok bahasa atau rumpun bahasa yang berpisah sekitar 50 sampai 100 abad lampau.

7) Kingdom (kerajaan ) : tingkatan tertinggi klasifikasi. Semua hewan masuk dalam Kingdom Animalia, sedangkan tumbuhan masuk ke dalam Kingdom Plantae.
Dalam biologi, kerajaan (bahasa Inggris: Kingdom; Latin: regnum, pl. regna) adalah tingkatan paling atas dari tingkatan klasifikasi makhluk hidup. Khusus dalam sistem tiga domain, kingdom adalah satu tingkat di bawah domain. Pada awalnya, hanya ada dua kingdom: Animalia untuk hewan dan Vegetabilia untuk tumbuhan. Ketika makhluk hidup bersel satu ditemukan, temuan baru ini dipecah ke dalam dua kingdom: yang dapat bergerak ke dalam filum Protozoa, sementara alga dan bakteri ke dalam divisi Thallophyta atau Protophyta. Namun ada beberapa makhluk yang dimasukkan ke dalam filum dan divisi, seperti alga yang dapat bergerak, Euglena, dan jamur lendir yang mirip ameba. Karena adanya kebingungan ini, Ernst Haeckel menyarankan adanya kingdom ketiga, yaitu Protista untuk menampung makhluk hidup yang tidak memiliki ciri klasifikasi yang jelas. Kingdom ketiga in baru populer belakangan ini (kadang dengan sebutan Protoctista).
Kini, standar Amerika menggunakan sistem enam kingdom (Animalia, Plantae, Fungi, Protista, Archaea, Bacteria) sementara standar Inggris, Australia dan Kolumbia memakai lima kingdom (Animalia, Plantae, Fungi, Protista, dan Prokaryota atau Monera).



Senin, 28 November 2016

MENGUNGKAP HAMA WERENG DAN CARA PENGENDALIANNYA


Agrotani.com – Dari dulu Hama Wereng Batang Coklat (WBC) menjadi hama yang sangat merugikan bagi banyak petani, namun bukan hal yang sangat sulit utuk saat ini. Pemerintah dan seluruh penyuluh bekerja keras untuk menanggulangi bagaimana hama ini bisa di kendalikan. Ada beberapa faktor penyebab kenapa hama ini bisa datang dengan serempak maupun mendadak, dan kita harus mengetahui dari mulai cara hidupnya sampai ke tahap pemberantasanya.
Hama Wereng Batang Coklat (WBC) memiliki nama ilmiah “Nilaparvata lugens Stal” yang menyerang secara terus menerus pada tanaman padi di indonesia dan pada awal tahun 1970 an negara kita di kejutkan dengan populasi wereng yang semakin meningkat, tentu pada masa itu mengancam ketahanan pangan kita dan produksi padi semakin menurun. Keadaan serangan WBC yang sangat merisaukan merupan konsekuensi penerapan teknologi maju yang kurang memperhatikan bioekologi  hama dalam usaha mengejar sasaran. Varietas unggul yang mempunyai anakan banyak,  tumbuh subur dan rimbun,  akan menciptakan keadaan iklim mikro yang sangat sesuai untuk perkembangan hama WBC.
Upaya yang bisa kita lakukan di antaranya menanam bibit unggul dengan kelebihan yang di milikinya yaitu memiliki gen tunggal dan tahan terhadap hama WBC, sehingga membuat hama WBC menjadi terseleksi atau menjadi sulit untuh bertahan hidup. Jika anda ingin menanam padi dengan varietas yang biasa, saya sarankan lebih baik menggantinya dengan varietas yang lebih unggul, karen sangat berdampak sekali dengan hasil yang anda proleh. Anda bisa menggunakan system SRI untuk penanaman dan pencegahanya.
Hal yang jarang sekali di ketahui oleh petani yang membudidayakan tanaman padi, mereka melakukan penanaman terus menerus ketika persediaan air sangat banyak, itu sangat bagus untuk produksi, namun tahukah anda !!! dengan kasus di atas hama WBC akan meningkat karena dengan penanaman dengan terus-menerus akan mengakibatkan persedian makanan untuk hama ini semakin banyak dan WBC akan tumbuh pesat, ini sering terjadi dan banyak di lapangan yang mengalami seperti ini.
Advertisement
Penggunaan insektisida dengan  dosis dan konsentrasi yang sangat tidak di  anjurkan atau bahan aktif yang berlebihan menjadi penyebab utama untuk kemunculan hama ini,  waktu dan cara aplikasinya selain tidak efektif ternyata dapat menyebabkan resistensi,  resunjersi munculnya hama sekunder dan akibat samping lainnya yang tidak diinginkan Pengalaman dalam menanggulangi hama WBC sejak musim tanam 1974-1975 saat ini,  menunjukkan bahwa pengendalian WBC tidak pernah berhasil bila hanya mengandalkan satu cara pengendalian saja. Kita harus menerapkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT),  yaitu sistem pengendalian populasi hama dengan menerapkan berbagai pengendalian yang serasi sehingga tidak menimbulkan kerugian ekonomi dan aman terhadap lingkungan.
Siklus Dan Daur  Hidup WBC
Anda harus mengetahui bagaiman hala yang terjadi  pada hama ini ketika kita putus siklus hidupnya. Wereng batang coklat (WBC)  Nilaparvata lugens Stal Tergolong dalam ordo Homoptera.  Seluruh tubuhnya berwarna coklat kekuningan sampai colat tua,  berbintik coklat gelap pada pertemuan sayap depannya.  Panjang badan serangga o rata-rata 2-3 mm dan 3-4 mm.  Inang utama WBC ialah tanaman padi.  Telur WBC berwarna putih,  berbentuk seperti buah pisang,  berukuran 1.30 x 0.33 mm,  diletakkan berkelompok dalam jaringan pelepah daun padi(Gambar 1).  Telur terkadang ditemukan pula pada helai daun.  Telur menetas setelah 7-10 hari Wereng batang coklat yang baru menetas sebelum menjadi dewasa melewati 5 tahap pertumbuhan nimfa(instar)  yang dapat dibedakan menurut ukuran tubuh dan bentuk bakal sayapnya Periode nimfa berkisar antara 12-15 hari.  Hal penting yang perlu diperhatikan yaitu periode telur lebih dari separuh periode nimfa.
Oleh karena telur WBC diletakkan di dalam jaringan pelepah daun,  maka telur tidak dipengaruhi oleh aplikasi insektisida.  Menurut ukuran sayapnya,  WBC dewasa terdiri dari dua bentuk,  yaitu bentuk bersayap panjang(makroptera)  dan bentuk bersayap pendek (brakhiptera).  Munculnya kedua bentuk WBC dipengaruhi oleh kepadatan populasi dan kondisi pertanaman. Bentuk makroptera dapat terbang sehingga merupakan bagian populasi yang berfungsi untuk menemukan tempat hidup baru”migrasi “. Perpindahan WBC jarak jauh dapat terjadi dengan bantuan angin.
Beberapa hari setelah kawin WBC betina bertelur Selama hidupnya,  seekor  WBC betina di laboratorium mampu bertelur sampai 1000 butir,  tetapi karena adanya pengaruh lingkungan,  kemampuan bertelur di lapangan hanya mencapai 100-600 butir Lama hidup makroptera migran 5 hari dan masa hidup brakhiptera betina berkisar antara 5-9 hari.

Padi merupakan makanan pokok sumber kalori untuk sebagian besar penduduk dunia, terutama di Asia, dimana lebih dari 90% padi di tanam. Di Indonesia, tingkat konsumsi beras masih tinggi yaitu 139 kg/kapita/tahun.  Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat sehingg diperkirakan kebutuhan beras pada tahun 2020 mencapai 35,1 juta ton.  Kalau produksi padi tidak meningkat, berarti pada tahun 2020 akan terjadi kekurangan beras sebanyak 4,5 juta ton (Baehaki. 2006). Adanya gangguan hama dan penyakit merupakan salah satu kendala dalam pencapaian produksi yang diharapkan.

Wereng hijau (Nepotettix viriescens) merupakan salah satu hama penting  pada  tanaman padi karena menularkan virus tungro yang dapat menurunkan hasil hingga puso.  Penyakit tungro menyebabkan jumlah anakan berkurang dan kehampaan gabah yang tinggi.  Usaha pengendalian yang banyak dilakukan adalah penggunaan insektisida.  Namun, penggunaan  insektisida dapat menimbulkan dampak negatif, bagi kesehatan manusia dan lingkungan sehingga secara tidak langsung bisa menurunkan daya saing padi.  Dengan demikian diperlukan strategi pengendalian lain yang lebih ramah lingkungan seperti penggunaan musuh alami.  Musuh alami yang biasa digunakan adalah predator, parasitoid dan patogen karena dapat mencegah meningkatnya populasi wereng hijau dan bermanfaat untuk pertanian berkelanjutan yang secara ekologis maupun ekonomi menguntungkan.

Musuh Alami adalah organisme yang menjadi faktor penghambat berkembangnya hama dan pennyakit pada tanaman.  Pemanfaatan musuh alami (agens hayati) dalam menekan kehilangan dan kerugian hasil akibat organisme pengganggu tanaman (OPT) merupakan salah satu aspek penting yang sangat berpeluang untuk menjawab tuntutan masyarakat akan produk tanaman yang berkualitas, sehat, dan aman dikonsumsi.  Produk semacam ini memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi yang lambat laun akan menjadi buruan pasar dunia karena memberikan keuntungan lebih tinggi  dan manfaat kesehatan lebih besar.

Pemanfaatan musuh alami memiliki beberapa keuntungan yaitu : 1) selektivitas tinggi dan tidak menimbulkan hama baru, 2) organisme yang digunakan sudah tersedia di alam, 3) organisme yang digunakan dapat mencari dan menemukan inangnya, 4) dapat berkembang biak dan menyebar 5) hama tidak menjad resisten atau jika terjadi sangat lambat, 6) pengendalian dengan sendirinya  (Van Emden 1976 dalam Lubis 2005).

Menurut Chiu 1739 dalam Laba 2001, Serangga wereng mempunyai 79 jenis musuh alami yaitu 37 predator,  34 parasitoid dan 8 patogen.

Predator : organisme yang memangsa organisme lain. Contoh-contoh predator wereng hijau antara lain : 



  
Parasitoid : serangga yang memarasit (hidup dan berkembang dengan menumpang) serangga lain (yang disebut inang). Parasitoid ada yang berkembang didalam tubuh inang (endoparasit), dan ada yang berkembang di luar tubuh inang (ektoparasitoid). Inang yang diparasit dapat berupa telur, larva, nimfa, pupa atau imago serangga hama (Korlina, E. 2011).  Beberapa spesies serangga parasit nimfa dan imago wereng hijau (N.virescens) antara lain Pseudogonatopus sp. (Hymenoptera: Drynidae) dan Pipunculid sp. (Diptera). 

Patogen : mikroorganisme yang menginfeksi organisme lain. Contoh agens hayati patogen yang telah diketahui dan dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan wereng hijau (N.viresens) adalah jamur entomopatogen diantaranya Beauveria bassiana dan Metharizium anisopliae. Aplikasi jamur entomopatogen tersebut menekan keperidian dan kepadatan populasi wereng hijau tetapi tidak mempengaruhi kepadatan populasi musuh alami (Widiarta dan Kusdiman  2007).

Ada beberapa cara yang perlu dilakukan dalam upaya pengembangan musuh alami di lapangan yaitu :


  1. Introduksi : pengimporan satu atau lebih musuh alami dari tempat asalnya. Introduksi dilakukan bila hama disuatu daerah belum mempunyai musuh alami.
  2. Augmentasi : perbanyakan musuh alami dengan mengintroduksi musuh alami dari luar yang sebelumnya diperbanyak di laboratorium dan selanjutnya dilepas sewaktu-waktu atau secara teratur. 
  3. Konservasi : upaya untuk melestarikan musuh alami yang sudah ada di suatu tempat dan mengefektifkan fungsinya.  
Untuk melestarikan musuh alami seharusnya memperhatikan beberapa hal diantaranya :

  1. Tempat perlindungan musuh alami. 
  2. memodifikasi sitem budidaya tanaman. 
  3. Penggunaan pestisida secara terbatas dan selektif.

Pangan khususnya beras semakin dituntut untuk aman bagi konsumen, oleh karena itu proses produksi yang ramah lingkungan dalam pengendalian penyakit tungro perlu dilakukan agar memiliki nilai tambah dan daya saing yang tinggi.  Salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan pengendalian penyakit tungro adalah penggunaan musuh alami yang didukung oleh pola tanam polikultur, pergiliran tanaman/varietas tahan serta penggunnaan pestisida secara bijaksana.

Perlu diterapkan sistem ekolabeling untuk produk-produk pertanian ramah lingkungan khususnya beras yang notabene sebagai makanan pokok dan memberi penghargaan (rewarding) kepada petani yang telah berproduksi dengan benar. Begitupun dengan konsumer yang turut berkontribusi dalam pengembangan pertanian yang sehat. Dengan demikian, produk hasil pertanian akan memiliki nilai tambah dan daya saing yang tinggi.

Sumber: http://lolittungro.litbang.pertanian.go.id/  dan http://caramengatasiwereng.blogspot.com/


VARIASI GEN DALAM POPULASI

Oleh
Abraham Kolow
Metri Dian Insani

A.Variasi Gen Dalam Populasi
Variasi gen dalam populasi merupakan gambaran dari adanya perbedaan respon individu-individu terhadap lingkungan. Suatu populasi terdiri dari suatu sejumlah individu. Dengan suatu kekecualian, maka tidak ada dua individu yang serupa, pada populasi manusia dapat kita lihat dengan mudah adanya perbedaan-perbedaan individu, misalnya dipunyainya ciri-ciri anatomi, fisiologi dan tingkah lakunya. Variasi individu terjadi pada binatang bersel satu sampai dengan manusia.
Fenotipe suatu individu organisme dihasilkan dari genotipe dan pengaruh lingkungan organisme tersebut. Variasi fenotipe yang substansial pada sebuah populasi diakibatkan oleh perbedaan genotipenya. Evolusi modern mendefinisikan evolusi sebagai perubahan dari waktu ke waktu pada variasi genetika ini. Variasi dapat berasal dari mutasi bahan genetika, migrasi antar populasi (aliran gen), perubahan susunan gen melalui reproduksi seksual, dan tukar ganti gen antara spesies yang berbeda: contohnya melalui transfer gen horizontal pada bakteria.
Walaupun terdapat variasi yang terjadi secara terus menerus melalui proses-proses ini, kebanyakan genom spesies adalah identik pada seluruh individu spesies tersebut. Bahkan perubahan kecil pada genotipe dapat mengakibatkan perubahan yang dramatis pada fenotipenya. Secara umum variasi gen dalam populasi dapat dibedakan menjadi 5 penyebab (agensia evolutif), yakni mutasi, rekombinasi gen, genetic drift, gen flow dan seleksi alam.

1. Mutasi
Mutasi diartikan sebagai perubahan sifat keturunan (gen). Mutasi terjadi secara acak, yang beradaptasi hanya sebagian kecil. Bila suatu mutasi mempunyai nilai ketahanan dan bentuk baru yang diturunkan telah nampak, maka ketahanan, kedewasaan dan reproduksi dari bentuk baru itu tidak bersifat acak lagi. Mereka cenderung untuk bertambah dalam populasi dibandingkan dengan anggota populasi lain yang mempunyai nilai selektif rendah.
Penyebab mutasi
Faktor- faktor yang menjadi penyebab terjadinya mutasi dikenal sebagai mutagen.
a). Faktor fisika (radiasi)
Agen mutagenik dari faktor fisika berupa radiasi. Radiasi yang bersifat mutagenik antara lain berasal dari sinar kosmis, sinar ultraviolet, sinar gamma, sinar –X, partikel beta, pancaran netron ion- ion berat, dan sina- sinar lain yang mempunyai daya ionisasi.
b). Faktor kimia
Banyak zat kimia bersifat mutagenik. Zat- zat tersebut antara lain adalah pestisida dan bahan-bahan industri (Formadehid, Glycidol, DEB, dll), makanan dan minuman (caffein, siklamat, sikloheksilamin, natriun nitrit, asam nitrit, dll), Obat (Siklofosfamid, Metil di-kloro etil amin, Antibiotik, dll).
c). Faktor biologi
Virus merupakan penyebab kerusakan kromosom. Misalnya virus hepatitis menimbulkan aberasi pada darah dan sumsum tulang. Virus campak, demam kuning, dan cacar juga dapat menimbulkan aberasi.

2. Migrasi
Migrasi ke dalam atau ke luar populasi dapat mengubah frekuensi alel, serta menambah variasi genetika ke dalam suatu populasi. Imigrasi dapat menambah bahan genetika baru ke lungkang gen yang telah ada pada suatu populasi. Sebaliknya, emigrasi dapat menghilangkan bahan genetika. Karena pemisahan reproduksi antara dua populasi yang berdivergen diperlukan agar terjadi spesiasi, aliran gen dapat memperlambat proses ini dengan menyebarkan genetika yang berbeda antar populasi.

3. Genetic drift
Genetic drift adalah lepasnya frekuensi alela secara kebetulan. Peristiwa ini sangat berarti pada populasi yang sangat kecil. Kenyataannya 1 dari 2 alela mempunyai peluang untuk lepas adalah kira-kira 0, 8%. Hilangnya gen selalu mempengaruhi frekuensi alela pada beberapa tingkat tetapi pengaruh tersebut menurun pada populasi yang berukuran besar. Karena itu dalam populasi kecil, kurang dari 100 individu hilangnya gen masih cukup kuat pengaruhnya terhadap frekuensi alela, meskipun ada agenesia evolutif lain yang berperanan pada saat itu juga terhadap perubahan frekuensi alela dalam arah yang berbeda.

4. Seleksi alam
Seleksi alam yang dimaksud dalam teori evolusi adalah teori bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah. Yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Antara sesama makhluk hidup akan saling bersaing untuk mempertahankan hidupnya.
Contoh seleksi alam misalnya yang terjadi pada ngengat biston betularia. Ngengat biston betularia putih sebelum terjadinya revolusi industri jumlahnya lebih banyak daripada ngengat biston betularia hitam. Namun setelah terjadinya revolusi industri, jumlah ngengat biston betularia putih lebih sedikit daripada ngengat biston betularia hitam. Ini terjadi karena ketidakmampuan ngengat biston betularia putih untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Pada saat sebelum terjadinya revolusi di Inggris, udara di Inggris masih bebas dari asap industri, sehingga populasi ngengat biston betularia hitam menurun karena tidak dapat beradaptsi dengan lingkungannya. namun setelah revolusi industri, udara di Inggris menjadi gelap oleh asap dan debu industri, sehingga populasi ngengat biston betularia putih menurun karena tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan, akibatnya mudah ditangkap oleh pemangsanya.
Kesimpulan:
1. Penyebaran kupu hitam berkorelasi dengan derajat pencemaran.
2. Ada mutasi putih ke hitam.
Gene pool
Gene pool adalah jumlah dari seluruh gen (termasuk plasma gen) yang dimiliki oleh semua individu. Genotip dari individu diploid hanya dapat mempunyai suatu maksimal jumlah dari dua alel dari suatu gen. Dalam gen pool, dimana setiap macam gen dengan frekuensi atau perbandingan alel gen A dan a pada suatu populasi yang berbiak secara seksual, terdapat alel A sebanyak 90 % dari jumlah kedua alel, sedangkan alel a merupakan 10 % dari jumlah itu. Akan kita katakan kemudian bahwa frekuensi A dan a pada gen pool populasi ini adalah 0,9 dan 0,1. Bila frekuensi ini berubah dengan berubahnya waktu, maka perubahan ini merupakan perubahan evolusi.
Kalau kita katakan bahwa evolusi adalah perubahan di dalam komposisi genetis dari populasi, yang kita artikan adalah suatu perubahan dari frekuensi genetis di dalam suatu gen pool. Itulah sebabnya faktor penyebab evolusi dapat kita tentukan dengan menentukan faktor apa yang dapat menghasilkan suatu pergeseran dari frekuensi genetis.

B. Hukum Hardy – Weinberg
Populasi yang berukuran besar sangat memungkinkan terjadinya kawin acak (panmiksia) di antara individu-individu anggotanya. Artinya, tiap individu memiliki peluang yang sama untuk bertemu dengan individu lain, baik dengan genotipe yang sama maupun berbeda dengannya. Dengan adanya sistem kawin acak ini, frekuensi alel akan senantiasa konstan dari generasi ke generasi. Prinsip ini dirumuskan oleh G.H. Hardy, ahli matematika dari Inggris, dan W.Weinberg, dokter dari Jerman, sehingga selanjutnya dikenal sebagai hukum keseimbangan Hardy-Weinberg.
Di samping kawin acak, ada persyaratan lain yang harus dipenuhi bagi berlakunya hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, yaitu tidak terjadi migrasi, mutasi, dan seleksi. Dengan perkatan lain, terjadinya peristiwa-peristiwa ini serta sistem kawin yang tidak acak akan mengakibatkan perubahan frekuensi alel. Kalau dalam suatu populasi terdapat gen yang terdiri dari 2 alel; A dan a, maka setiap individu tentunya akan memiliki salah satu atau kedua alel tersebut. Pasangan alel dapat berupa AA (homozigot dominan), Aa (heterozigot), dan aa (homozigot resesif). Dalam syarat-syarat tertentu, frekwensi alel A dan a di populasi tersebut tentulah akan tetap. Dengan demikian persentase individu AA, Aa, atau aa akan tetap dari generasi ke generasi. Pada populasi itu telah terjadi perimbangan alel.
Hukum Hardy-Weinberg merumuskan perimbangan alel pada populasi yang panmixis. Persentase masing-masing alel adalah tetap dan jumlahnya selalu 100%. Sedangkan kalau persentase itu diubah menjadi frekwensi, maka jumlah frekwensi semua alel dari satu gen adalah 1.
Syarat-syarat Berlakunya Hukum Hardy–Weinberg
Kondisi-kondisi pada hukum Hardy–Weinberg, sehingga menyebabkan gene pool dari suatu populasi berada di dalam keseimbangan genetis. Syarat-syaratnya adalah sebagai berikut.
• Populasi harus cukup besar, sehingga suatu faktor kebetulan saja tidak mungkin mengubah frekuensi genetis secara berarti.
• Mutasi tidak boleh terjadi, atau harus terjadi keseimbangan secara mutasi.
• Harus tidak terjadi emigrasi dan imigrasi.
• Tidak terjadi seleksi alam.
• Reproduksi harus sama sekali sembarang (random).
Suatu populasi produktif yang terdiri lebih dari 10.000 anggota yang dapat berbiak, mempunyai kemungkinan besar tidak dipengaruhi secara berarti oleh perubahan sembarang, yang dapat menuju kepada lenyapnya suatu alel dari gene pool, meskipun alel itu merupakan alel superior. Di dalam populasi yang demikian, ternyata hanya terdapat sangat kecil alel yang mempunyai frekuensi antara, rupanya semua alel itu mempunyai kecenderungan untuk hilang dengan segera atau tertahan sebagai satu – satunya alel yang ada. Dengan perkataan lain, populasi kecil mempunyai kecenderungan besar untuk menjadi homozigot, sedangkan populasi besar cenderung untuk lebih bermacam – macam.
Jadi suatu kesempatan dapat menyebabkan perubahan evolusi di dalam populasi kecil, yang disebut genetic drift.
Mutasi selalu terjadi, tidak ada suatu cara apapun untuk mencegahnya. Hampir semua gen mungkin mengalami mutasi sekali pada 50.000 sampai 10.000 pembelahan, kecepatan mutasi pada berbagai macam gen berbeda. Sangat jarang mutasi alel dengan sifat sama dapat sampai mencapai keseimbangan. Jadi jumlah mutasi maju jarang sekali sama dengan mutasi balik di dalam suatu kesatuan waktu. Kecepatan dari kedua mutasi ini jarang sekali akan terjadi dalam keadaan yang sama – sama betul sama, salah satu mutasi yang akan terjadi lebih sering. Tekanan mutasi ini akan cenderung untuk menyebabkan pergeseran perlahan – lahan pada frekuensi genetis di dalam populasi. Alel yang lebih stabil akan cenderung untuk bertambah frekuensinya, sedangkan alel yang mudah bermutasi akan cenderung untuk berkurang frekuensinya, kecuali kalau ada faktor lain yang mengubah tekanan mutasi ini. Meskipun tekanan mutasi selalu ada, tetapi mungkin sekali bahwa ini merupakan faktor utama yang dapat menghasilkan perubahan pada frekuensi genetis di dalam suatu populasi. Mutasi berjalan begitu lambat sehingga kalau bereaksi secara tunggal akan membutuhkan waktu yang lama sekali untuk menimbulkan suatu perubahan yang nyata (kecuali dalam hal poliploid). Mutasi terjadi secara sembarang (random) dan seringkali cenderung untuk mengarah pada jurusan yang berbeda dari faktor – faktor lain yang menyebabkan organism sesungguhnya harus berevolusi.
Kalau gene pool harus dalam keadaan seimbang, sudah barang tentu imigrasi dari populasi lain tidak boleh terjadi kalau hal ini akan menyebabkan terjadinya pemasukan gen baru. Hilangnya gene pool secara emigrasi harus tidak boleh terjadi. sebagian besar populasi alami mungkin paling sedikit mengalami migrasi genetis di dalam jumlah yang sangat kecil, dan faktor ini menambah terjadinya variasi yang cenderung untuk mengacaukan keseimbangan Hardy-Weinberg. Sangat disangsikan akan adanya suatu populasi yang bebas dari migrasi genetis dan pada beberapa kejadian dimana migrasi genetis terjadi, hal ini terjadi begitu kecil sehingga dapat diabaikan sebagai faktor yang menyebabkan pergeseran frekuensi genetis. Itulah sebabnya dapat kita simpulkan bahwa syarat ketiga untuk keseimbangan genetis kadang – kadang terjadi di alam.
Kondisi untuk keseimbangan genetis di dalam populasi adalah perkembangbiakan atau reproduksi yang random. Reproduksi atau perkembangbiakan tidak hanya bertanggung jawab atas kelangsungan reproduksi dari suatu populasi. Seleksi pasangan, efisiensi dan frekuensi proses perkawinan, fertilitas, jumlah zigot yang terjadi pada setiap perkawinan, prosentase zigot yang menuju kea rah pertumbuhan embrio dan kelahiran berhasil, kemampuan hidup keturunan sampai mencapai umur berbiak. Hal tersebut mempunyai pengaruh langsung pada keturunannya dalam arti keselamatan atau efisiensi dari reproduksi. Bila reproduksi merupakan sesuatu yang sama sekali random, maka semua faktor yang mempengaruhi harus random, yakni tidak terganggu dari genotip.
Keadaan tersebut di atas mungkin tidak dijumpai pada suatu populasi. Faktor–faktor tersebut mungkin selalu berhubungan dengan genotip, yakni genotip dari organisme yang mempengaruhi pasangannya dan semua hal yang disebutkan di atas. Secara singkat dapat dikatakan bahwa tidak ada aspek reproduksi yang sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan genotip.
Reproduksi tidak sembarang (nonrandom) adalah hokum umum. Reproduksi di dalam arti luas adalah seleksi alam. Jadi seleksi selalu bekerja pada semua populasi.
Sehingga kalau kita simpulkan, empat kondisi yang diperlukan untuk keseimbangan genetis yang diusulkan oleh hokum Hardy-Weinberg adalah:
•Ditemukan pada populasi besar.
•Tidak pernah dijumpai mutasi.
•Tanpa migrasi.
•Reproduksi random tidak pernah dijumpai.
Suatu keseimbangan yang lengkap di dalam gene pool tidak pernah dijumpai, perubahan secara evolusi adalah sifat–sifat fundamental dari kehidupan suatu populasi.

DAFTAR PUSTAKA
Suryo. 1996. Genetika. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Yatim, Wildan. 1980. Genetika. Bandung: Penerbit Tarsito. Hal. 210-216.

Widodo, Lestari, Umie, & Amin Mohamad. 2003. Evolusi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 41-46.

Sumber : https://duniagil.wordpress.com

ppt interaktif

Kamis, 24 November 2016

makna ogoh ogoh dalam perayaan hari raya nyepi

Hari Raya Nyepi dirayakan oleh umat Hindu setahun sekali. Satu hari sebelum Hari Raya Nyepi dilaksanakan tradisi arakan Ogoh-ogoh. Apa itu Ogoh-Ogoh?

    Jika dilihat dari aspek tertentu ogoh-ogoh memiliki beberapa definisi, bagi orang awam ogoh–ogoh adalah boneka raksasa yang diarak keliling desa pada saat menjelang malam sebelum hari raya nyepi (ngerupukan) yang diiringi dengan gamelan bali yang disebut BLEGANJUR , kemudian untuk dibakar. Menurut Wilkipedia bahasa Indonesia,”Ogoh-ogoh adalah seni patung dalam kebudayaan bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Khala,” Bhuta berarti waktu yang tidak terukur,sedangkan Khala berarti kekuatan.dari arti kata diatas maka para cendekiawan hindu dharma mengambil kesimpulan bahwa proses perayaan Ogoh-ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta, dan waktu yang maha dasyat, kekuatan itu dapat dibagi dua, pertama kekuatan bhuana agung, yang artinya kekuatan alam raya, dan kedua adalah kekuatan Bhuana alit yang bearti kekuatan dalam diri manusia. kedua kekuatan ini dapat digunakan untuk menghancurkan atau membuat dunia bertambah indah.

Definisi Ogoh-Ogoh
Sedangkan Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi tahun 1986, Ogoh-Ogoh didefinisikan sebagai ondel-ondel yang beraneka ragam dengan bentuk yang menyeramkan. Di lain pihak, ditahun 2003 seorang peneliti yang bernama Laura Noszlopy meneliti “Pesta Kesenian Bali; budaya, politik, dan kesenian kontemporer Indosnesia” untuk Yayasan Arts of Afrika mendefinisikan ogoh-ogoh sebagai berikut Ogoh-ogoh adalah patung yang berukuran besar yang tebuat dari bubur kertas dan bahan pelekat yang biasanya dibuat oleh kaum remaja Bali sebagai suatu bagian dari perayaan tahunan “upacara pembersihan” (ngerupukan), yang dilaksanakan sehari sebelum perayaan Nyepi, tahun baru Hindu atau hari Nyepi.

Awal Mula Munculnya Ogoh-Ogoh
Banyaknya fersi yang yang beredar di masyarakat bali yang menjelaskan tentang awal mula munculnya ogoh-ogoh tersebut , sehingga untuk mengeathui kapan awal mula munculnya ogoh-ogoh secara pasti sangatlah sulit. Diperkirakan ogoh-ogoh tersebut dikenal sejak jaman Dalem Balingkang dimana pada saat itu ogoh-ogoh digunakan pada saat upacara pitra yadnya(upacara yang pemujaan yang ditujukan kepada para pitara dan kepada roh-roh leluhur umat hindu yang telah meninggal dunia). Pendapat lain menyebutkan ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di desa Selat Karangasem.
Perkiraan lain juga muncul dan menyebutkan barong landung yang merupakan perwujudan dari Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga (pasangan suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali) merupakan cikal-bakal dari munculnya ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini. Informasi lain juga menyatakan bahwa ogoh-ogoh itu muncul tahun 70-80’an.. Ada juga pendapat yang menyatakan ada kemungkinan ogoh-ogoh itu dibuat oleh para pengerajin patung yang telah merasa jenuh membuat patung yang berbahan dasar batu padas, batu atau kayu, namun disisi lain mereka ingin menunjukan kemampuan mereka dalam mematung, sehingga timbul suatu ide untuk membuat suatu patung dari bahan yang ringan supaya hasilnya nanti bisa diarak dan dipertunjukan.

Arak-arakan Ogoh-ogoh
Dalam rangkaian Nyepi di Bali yang bertepatan dengan Sasih Kesange (bulan kesange) atau pada penanggalan masehi bertepatan dibulan Maret atau April, upacara yang dilakukan berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut:
1. Di ibu kota provinsi dilakukan upacara Tawur.
2. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud.
3. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak.
4. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata.
5. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.
Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah, dipajangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) yang di tambahi dengan penjor atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut umbul-umbul dan di situ umat menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut, penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya.
Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar. Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah. Upacara Bhuta Yajna di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 – 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngerupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian.
Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Sejak tahun 80-an, umat hindu mengusung ogoh-ogoh yang dijadikan satu dengan acara mengelilingi desa dengan membawa obor atau yang diebut acara ngerupuk. Sebelum memulai pawai ogoh-ogoh para peserta upacara atau pawai biasanya melakukan minum-minuman keras traditional yang dikenal dengan nama arak Pada umumnya ogoh-ogoh di arak menuju sutau tempat yang diberi nama sema(tempat persemanyaman umat hindu sebelum di bakar dan pada saat pembakaran mayat) kemudian ogoh-ogoh yang sudah diarak mengelilingi desa tersebut dibakar. Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai dengan diiringi irama gamelan khas bali yang diberi nama BleganjurPatung yang dibuat dengan bahan dasar bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngerupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara.

Makna yang Terkandung Dalam Pawai Ogoh-Ogoh
Ogoh-ogoh merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia: adharma svarupa; sehingga pengarakannya berbagai lokasi di sekitar banjar atau desa, yang melewati jalan-jalan utama sehingga tampak oleh semua warga banjar yang memiliki suatu makna tersendiri. Kehidupan selalu memiliki elemen yang positif maupun negatif, hal ini selalu ada di dalam diri manusia, dan jika kita bijaksana untuk bersedia melihatnya, kita tidak akan menyangkalnya. Ogoh-ogoh yang dibangun bersama secara swadaya oleh masyarakat banjar, secara implisit, memberikan ide bagi kita semua untuk bersedia melihat sifat-sifat negatif dalam diri kita, dan menjadi terbuka akannya, bahwa hal itu bukanlah hal yang harus ditakuti, namun untuk kita lihat dan amati bersama, sehingga kita dapat memahaminya. Tradisi ini mengingatkan masyarakat Bali khususnya.
Selain itu ogoh-ogoh diarak keliling desa bertujuan agar setan-setan yang ada di sekitar desa agar ikut bersama ogoh-ogoh, Karen setan setan tersebut menganggap bahwa ogo-ogoh tersebut merupakan rumaah merak dan kemudian ikut di bakar.minum minuman keras tradisional khas bali yang di namai arak subelum mengarak ogoh-ogoh dengan cara diangkat.mabuk karena minum arak di bali bukan sesuatu yang dilarang malah itu adalah hal yang dianjurkan oleh agama mereka,sebagqaimana kita tahu masyrakat bali yang mayoritas beragama hindu memiliki banyak sekali Dewa,begitu pula prilaku yang jahat mereka memiliki dewa untuk hal tersebut, yaitu Dewa atau Batara Kala.
Sebenarnya hal ini dapat memberikan sedikit gambaran mengenai kepercayaan yang diyakini oleh orang bali, yaitu hal-hal yang terjadi di dunia ini selalu berpasangan, sebagai contoh ada orang baik dan ada juga orang jahat, ada kematian tapi ada juga bayi yang baru lahir, atau pemahaman lebih sederhananya yaitu ada warna hitam ada juga warna putih, jadi apapun yang terjadi dalam kehidupan manusia selalu berjalan dengan seimbang, jadi ritual meminum arak bagi orang yang mengarak ogoh-ogoh di anggap sebagai perwakilan dari sifat buruk yang ada di dalam diri manusia.
Bahwa beban dari berat yang mereka gendong adalah sebuah sifat negatif, seperti cerminan sifat-sifat raksasa, ketika manusia menyadari hal ini, mereka tidak akan menahan elemen-elemen ini sendirinya, dan membiarkan elemen ini menjadi tiada seperti abu dan debu yang tertiup angin. Sehingga biasanya, secara tradisional, di akhir pengarakan ogoh-ogoh, masyarakat akan membakar figur raksasa ini, boleh jadi dikatakan membakar (membiarkan terbakar habis) sifat-sifat yang seperti si raksasa.Ketika semua beban akan sifat-sifat negatif yang selama ini mengambil (memboroskan) begitu banyak energi kehidupan seseorang, maka seseorang akan siap memulai sebuah saat yang baru, ketika segalanya menjadi hening, masyarakat diajak untuk siap memasuki dan memaknai Nyepi dengan sebuah daya hidup yang sepenuhnya baru dan berharap menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya bagi dirinya dan segenap semesta.


Bentuk Ogoh-Ogoh
Ogoh-ogoh sendiri memiliki peranan sebagai simbol atau pemvisualisasian prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta (kekuatan alam). Dimana ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi ini merupakan perwujudan Bhuta kala yakni unsur alam yang terdiri dari air, api, cahaya, tanah, dan udara yang divisualkan dalam wujud yang menyeramkan dan bentuknya yang sangat besar, karena jika kekuatan alam itu berlebihan tentunya akan menjadi kekuatan yang merusak dan menyeramkan, ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.
Pada awal mula diciptakannya ogoh-ogo dibuat dari rangka kayu dan bambu sederhana, rangka tersebut dibentuk lalu dibungkus kertas. Pada perkembangan jaman yang maju pesat ogoh-ogoh pun terimbas dampaknya, ogoh-ogoh makin berinovasi, ogoh-ogoh dibuat dengan rangka dari besi yang dirangkaikan dengan bambu yang dianyam, pembungkus bodi ogoh-ogoh pun di ganti dengan gabus atau stereofoam dengan teknik pengecatan. Tema ogoh-ogoh pun semakin berfariasi, dari tema pewayangan, modern, porno sampai politik yang tidak mencerminkan makna agama. Tema ogoh-ogoh yang diharapkan adalah sesuai dengan nilai agama Hindu yaitu tidak terlepas dari Tuhan, Manusia dan Buta Kala sebagai penyeimbang hubugan ketiganya.
Ogoh-ogoh simbol Kala ini haruslah sesuai dengan sastra agama yang diatur dalam pakem dan bukan seperti yang beberapa dibuat saat ini, karena banyak kita lihat kala dibuat berbentuk manusia lucu, Rocker, punk, inul, manusia, raksasa sexy dan seronok. Tapi dari sudut pandang lain mengatakan ogoh-ogoh itu merupakan kreativitas anak muda yang mengekploitasi bentuk gejala alam dan fenomena sosial yang terjadi dimasyarakat saat ini jadi tidak perlu adanya pembatasan ataupun pengekangan dalam berekspresi.Dampak Dari Perayaan Ogoh – Ogoh Dari peraya ogoh tersebut banyak dampak yang tibul dalam masyarakat bali atau pun dari luar dampak positif namun juga menghadirkan dampak negatif . Dapak dampak tersebut seperti:
• Dampak positif dari perayaan ini seperti menjadi hiburan ter sendiri bagi umat hindu dan non hindu, menarik banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri, karena ogoh-ogoh adalah sebuah patung yang sangat besar maka di butuhkan banyak orang untuk mengaraknya dari sanalah rasa persatuan dan kesataun diantara umat hindu, dalam pebuatan ogoh-ogoh yang mengandung unsur seni dapat menghidupkan kreatifitas pada pemuda pemusik bali,
• Dampak negatif yang timbul dari perayaan ogoh-ogoh seperti pertikaian baik kecil maupun besar antara warga (khususnya kaum pemuda) akan hal-hal yang secara personal tidak terkait dengan pemaknaan pangrupukan sendiri; Anda dapat bayangkan kelompok warga yang tumpah ruah ke jalan-jalan menyaksikan arak-arakan yang ada dari desa ke desa hampir di seluruh Bali. Dalam pembuatan ogoh-ogoh memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkan biaya yang sebabyak itu para pemuda meminta sumbangan kepada para warganya. Yang menjadi masalah apa bila pemungutan sumbangan tersebut bukan pada tempatnya seperti pemuda banjar yang berbeda meminta kepada warga bajar yang berbeda, akhirnya warga menjadi resah.
Dampak negative yang terjadi karena pawai tersebut adalah hal yang wajar, tergantung bagiaman cara pandang kita untuk menanggapinya, karena dalam pawai mengarak ogoh-ogoh tersebut merupakan pawai yang sangat ramai semua orang tupah ruah di jalan raya demi menyaksikan pawai ogoh-ogoh di tambah para pengarak yang sudah mabuk dahulu sebelum mengaraknya dan tidak sadar. Sedangkan dalam dana pembuatan ogoh-ogoh yang membutuhkan dana hinga berpuluh juga juga perlu pemikiran yang cerdas dari pemuda agar tidak membuat resah warganya.


komangsukaredana.blogspot.com